kelas warga

Kelas Warga: Merawat Tubuh Tradisi

Komuntias Gubuak Kopi mengajak kawan-kawan semua hadir di Kelas Warga edisi Juni:
Merawat Tubuh Tradisi

Sabtu, 04 Juni 2016
19.30 Wib
di Gelanggang Gubuakkopi.

(Jln. Yos Sudurso, no 427, Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok).

Terdiri rangkaian pertunjukan (Randai, Indang, Tari) dan ngobrol santai berasama seniman tradisi dari Grup Indang – Minang Saiyo Sampu (Muaralabuh). (lebih…)

Iklan

MEMBACA YANG DIAM: MENOLAK KONSTRUKSI MEDIA

*Artikel ini diperuntukkan sebagai pengantar Pagelaran Seni Moods of May selaku Ketua Komunitas Gubuak Kopi,serta pengantar diskusi seni Kelas Warga.

Di sebuah pertualangan, di tengah rimba raya, saya ingat seorang teman yang bertanya heran, “kenapa tiba-tiba rimba ini menjadi diam?” seorang teman lainnya yang baru saja sadar, meloncat dan melihat sekitar. “predator”, begitu tegasnya, tak lama seekor ular besar lewat. Ia terus melintas dihadapan kami dengan seekor tikus besar di mulutnya, pergi, dan menghilang. Rimba kembali bernyanyi. (lebih…)

Kelas Warga: Teater di Kampung Jawa

Dalam rangka mendekatkan seni dengan warga Komunitas Gubuak Kopi bersama Pemuda Kelurahan Kampung Jawa Kota Solok menggelar “Kelas Warga” yang terdiri dari serangkaian kegiatan, diantarnya:
 
Workshop Pengenalan Seni Teater & Pertunjukan (monolog, pembacaan puisi, dan pantomime)
 
dengan menghadirkan kelompok teater KOTAK KOTAK GANAS dari Padangpanjang dan kelompok teater BANGSAT dari Kota Padang.
 
dilaksanakan pada:

(lebih…)

Doc. Ngobrol Santai Bersama Paul Agusta

Jumat, 24 Maret 2016 lalu Komunitas Gubuak Kopi kedatangan tamu spesial, Paul Agusta. Paul adalah salah seorang sineas yang namanya cukup dikenal di luar atau pun di dalam negeri. Sebelumnya ia dikenal sebagai seorang kritikus filem dan musik, kurator filem, juga terlibat dalam berbagai festival. Awal tahun 2007, ia memutuskan untuk memproduksi karyanya sendiri. Filem pertamanya, Kado Hari Jadi telah diputar di berbagai festival dan event filem di berbagai negara. At The Very Bottom of Everything adalah filem panjang keduanya. (lebih…)

Doc. Kelas Baca Berjamaah – Black Beauty

Kali ini kelas baca berjamaah Kelompok Barajafilem dan Komunitas Gubuak Kopi dapat buku baru, sesuai yang dijanjikan oleh Albert Rahman Putra sebelumnya (lihat:KELAS BACA BERJAMAAH – GERIMIS SEPANJANG TAHUN), bahwa kali ini kelas jamaah – selain mengembangkan budaya membaca – akan mengajak anak-anak semakin akrab dengan “menyayangi semua makhluk hidup”. (lebih…)

Mengenal dan Merawat Tradisi

Pada Senin 16 januari 2016, di Palanta Komunitas Gubuak Kopi berlangsung persentasi dan diskusi menarik bertemakan “music.locality.achiving” (Musik, Lokalitas, dan Pengarsipan). Diskusi ini pada dasarnya merupakan persentasi penelitian Palmer Keen bersama Albert Rahman Putra di beberapa daerah, di wilayah budaya Minangkabau. Duo peneliti dan pengarsip kesenian lokal ini, bersama Komunitas Gubuak Kopi sengaja memilih tema tersebut mengingat semakin berkurangnya kesadaran untuk mengenali dan mengembangkan kebudayaan lokal di Sumatera Barat. (lebih…)

Kelas Warga: Musik, Lokalitas, dan Pengarsipan

palmer

Pada kesempatan kali Komunitas Gubuak Kopi kedatangan seorang etnomusikolog muda asal Los Angles, Amerika Serikat. Palmer Keen, demikian nama pemuda yang sudah meneliti dan mengamati musik tradisional Indonesia sejak kurang lebih empat tahun terakhir. Beberapa dokumentasi dan hasil penelitianya bisa kita lihat di website yang dikelolannya: http://www.auralarchipelago.com .

Pada 13 Januari 2016 lalu, Palmer datang untuk melakukan beberapa agenda penelitian musik tradisi di Minangkabau bersama Albert Rahman Putra (penulis dan peneliti di Gubuakkopi). Penelitian difokuskan pada beberapa kesenian lokal, lebih tepatnya hanya berkembang dan hanya ditemukan dibeberapa wilayah tertentu saja. Di antaranya adalah Talempong Sambilu atau Talempong Botuang (Silungkang, Sawahlunto), Sirompak (Taeh Baruah, Payakumbuh), Talempong Batu (Suliki), Basijobang (Sungai Tolang), Muluk (Lintau) dan berikutnya Talempong Unggan (Sumpur Kudus). Kesenian-kesenian ini menurut Albert mewakili karakter umum musik yang (pernah_red) berkembang dan ada di Minangkabau: musik rakyat (folklore), ritual (black magic), religius (Minang-Islami), dan musik upacara ke-adat-an (seremonial). (lebih…)