Mural di Dinding Pustaka Kita

Oleh Raenaldy Andrean

Sebuah dinding pustaka tua yang biasanya kusam dan tak berwarna, sekarang mulai terlihat penuh dengan banyak gambar dan tulisan yang mengundang tawa, hingga membuat banyak mata mulai melirik dan memperhatikan. Banyak warga yang berhenti sejenak, bertanya apa yang pemuda dan remaja lakukan di sana.

Beberapa waktu lalu, sejak 28 Desember 2016 hingga 08 Januari 2017, di Perpustakaan Nagari Kelurahan Kampung Jawa, Solok, Komunitas Gubuak Kopi dan pemuda, serta remaja lokal melakukan kegiatan menggambar di dinding, atau yang juga dikenal dengan seni mural. Kegiatan yang mencolok di persimpangan kelurahan itu, mulai menarik perhatian warga dan banyak orang yang berlalu lalang. Mural dan coretan di dinding sebenarnya masih dianggap hal yang baru untuk sebagian besar warga Solok, termasuk di Kelurahan Kampung Jawa. Sempat beberapa warga mengangap yang dikerjakan oleh pemuda-pemuda tersebut adalah aksi merusak dinding perpustakaan saja. Memang sewaktu itu muralnya belum selesai, dan warga kebingungan.

Sebelumnya, memang Komunitas Gubuak Kopi sempat beberapa kali melakukan kegiatan mural di kelurahan yang sama, namun posisinya sedikit lebih ke dalam dan tidak banyak orang yang bisa menjangkaunya. Namun, kali ini Komunitas Gubuak Kopi mengajak warga untuk terlibat dan mengalami dalam proses yang menyenangkan itu. Sejak hari itu, warga Kampung Jawa, memproduksi karya mural pertamanya untuk kelurahan kita.

***

Selama ini, banyak yang mengira bahwa ke perpustakaan itu hanya untuk membaca, tapi kalau dipahami lagi fungsinya, di sana kita bisa melakukan banyak kegiatan bermanfaat. Seperti di Perpustakaan Nagari Kelurahan Kampung Jawa, yang pada dasarnya dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan masyarakat satu kelurahan. Di sana pada dasarnya kita bisa bertemu dan berinteraksi dengan banyak tetangga kita, berbagi ilmu, pengalaman, dan berbagi pandangan tentang hal yang terjadi di sekitar kita, serta bekreativitas. Hal inilah salah satu landasan bagi pegiat komunitas Gubuak Kopi untuk melakukan kegiatan di perpustakaan ini. Kita melihat beberapa tahun terakhir perpustakaan yang memiliki posisi dan fungsi strategis ini, terkesan terabaikan dan tidak dikelola dengan baik. Melihat keadaan tersebut, setelah satu tahun berkarya di Kampung Jawa, Komunitas Gubuak Kopi berniat untuk mengaktivasi ruang strategis ini, dengan kemungkinan fungsi lainnya yang sangat dibutuhkan oleh warga Kampung Jawa dan warga lainnya. Terutama kebutuhan untuk bertemu, berinteraksi, dan berbagi pengetahuan tentang kebudayaan lokal bersama generasi-generasi berikutnya. Hal ini lah salah satu poin utama yang dihimpun oleh Komunitas Gubuak Kopi setelah mengunjungi berbagai tokoh masyarakat di Kelurahan ini. Bahkan, ada sikap pesimis dari generasi tua terhadap remaja yang jarang sekali melakukan sesuatu dalam konteks Kelurahan Kampung Jawa. Seperti yang diceritakan oleh dua orang teman peneliti di Komunitas Gubuak Kopi, Albert Rahman Putra dan Delva Rahman, bahwa setelah riset beberapa bulan terakhir, tidak jarak generasi tua bilang, “kalau di sini, mengumpulkan anak muda susah, yang tua-tua pun harus dijanjikan minimal uang transport atau makan untuk berkarya di sini. Tapi mereka percaya, kalau kamu bisa mengumpulkan generasi muda yang sekarang ini, itu berarti mudah bagi kamu untuk melakukan di luar kelurahan ini,”

Kelurahan ini sebagaian besar diisi oleh perantau, di sini hidup beragam etnis, di antaranya oleh tokoh setempat disebut dengan istilah, JAMBAK. Bukan salah satu nama jenis buah jambu, melainkan singkatan dari Jawa, Minang, Batak, dan Kaliang (India). Kelurahan Kampung Jawa sendiri, secara tidak sadar juga telah terbagi menjadi dua kelompok, Kampunga Jawa bawah dan Kampung Jawa atas. Kampung Jawa atas, oleh warga kelurahan Kampung Jawa bawah sendiri diakui lebih kompak, lain halnya dengan warga Kampung Jawa bawah yang bersikap “siapa lu siapa, gue”. Dan menurut generasi tua, hal ini-lah yang terjadi sekarang. Sebelumnya, kelurahan ini sangat disegani orang luar, karena biar-pun di Kampung Jawa atas, maupun bawah, kita semua sering berkreativitas bersama dan terlihat kompak, orang luar pun takut membuat rusuh.

Dalam konteks ini, Perpustakaan Nagari Kelurahan Kampung Jawa, berada di pusat Kampung Jawa bawah. Memang awalnya agak sulit mengumpulkan pemuda dan remaja di sini. Seperti generasi kuliahan, tersebar di kota tetangga: Padang, Bukittinggi, dan Padangpanjang. Generasi SMA, di beberapa titik cukup ramai, tapi dalam satu kerumunan hanya satu anak kelurahan sini, lebih banyak teman-temannya dari luar, tapi mereka inilah yang akhirnya terlibat banyak dan kemudian mengumpulkan generasi remaja lainnya untuk mengaktivasi ruang itu: Perpustakaan Nagari.

Bersama beberapa pemuda dan remaja di  kelurahan Kampung Jawa, Solok, Komunitas Gubuak Kopi mendorong terdapatnya sebuah kegiatan mural dan kegiatan kreatif lainnya di  perpustakaan yang sudah lama dibiarkan murung itu. Para pemuda yang berhasil kami himpun-pun, berniat merubah pola pikir generasi muda yang menurut mereka sendiri sudah mulai tercemar dengan latah gadged yang sudah banyak merubah cara kita bersosial. Perpustakaan, kita yakini dapat menjadi salah satu jawabannya.Sepinya perpustakaan sebenarnya tidak hanya terjadi di Kelurahan Kampung Jawa, banyak pula perpustakaan di daerah lain yang tak terpakai dan di biarkan begitu saja, tapi tidak jarang pula banyak kampung yang memimpikan sebuah perpustakaan. Untuk itu yang pernah ada ini, harus dimanfaatkan dengan baik.

Minggu, 08 Januari 2017 lalu, coretan-coretan di dinding sudah hampir selesai, warga sudah bisa menikmati wajah baru perpustakaan kelurahan kita. Wajah baru yang dihiasi oleh remaja-remaja Kelurahan Kampung Jawa. Para orang tua dan generasi muda lainnya mulai mendekat dan berbagi saran serta pikiran yang selama ini tertahan. Hari itu pepustakaan kita sudah terlihat cerah, kini PR kita adalah bagaimana ini kemudian bisa dikeloka dengan baik untuk kepentingan bersama.

Gambar-gambar di Dinding Pustaka Kita.

DSC01864.JPG

Kini, di dinding bagian luar perpustakaan kita terdapat beragam gambar lucu dan unik. Seperti  mural “BANYAK BACA BIAR TETAP WARAS”  dilatari oleh pazel-pazel penuh warna seakan pecah berserakan memenuhi dinding dihiasi oleh bunga-bunga,daun, dan awanDi sini kita menertawakan diri kita sendiri, yang selama ini sibuk sendiri dengan dunia yang kita genggam hingga berlarut-larut, kita yang selama ini hanya tahu bagian-bagian kulit lalu berlagak banyak tahu. Saat itu kita percaya, agar tetap waras kita harus terus menggali ilmu, dengan membaca. Membaca dalam artian seluas-luasnya, menyimak dan memahami, baik itu buku ataupun persitiwa apapun di sekitar kita.

Di bagian depan pustaka, ada juga sebuah komik yang berjudul “DIHANTUI BUKU” di sebelah pintu sebelum masuk pustaka, yang dibuat oleh Zekalver, salah satu pegiat Gubuak Kopi.Menurutnya, kebanyakan anak-anak sekarang mengganggap membaca/membuka buku itu hal yang mebosankan dan menakutkan. Mereka lebih memilih kena marah dari pada membaca, makanya dia membuat komik yang diselingi lelucon seperti ”Pocong hantu buku goyang bro” menakuti si Udin dalam mimpinya, sehingga Udin pun bertanya kepada pak ustad tentang mimpinya dan akhirnya diberi penjelasan oleh pak ustad.  Zekal melontarkan pertanyaan kepada saya,

dsc01885

“coba lu  pikir deh, pas lu kecil lebih milih baca buku yang isi nya tulisan doang atau yang pake gambar? begitu juga anak sekarang, makanya gua bikin komik di dinding biar anak-anak yang ngeliat penasaran dan nge-baca tu komik.”

“…Komik ini sengaja gua bikin di dinding sebelum masuk ke perpustakaan nggak mungkin juga kan dia ngebaca tu komik di depan pintu pustaka, trus dia langsung pergi, pasti dia juga akan masuk ke dalam pustaka,” tambah Zekal sambil tertawa.

Masih banyak lagi gambar menarik lainnya di dinding perpustakaan, baik itu ajakan untuk berkebun, belajar, berkenalan dengan alam dan sebagainya. Ada pula di bagian belakang perpustakaan, terlukis nama adik-adik yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan bersejarah itu, dan masih banyak lagi. Semoga karya-karya mural ini dapat memancing atensi masyarakat dalam melihat perpustakaan sebagai ruang berkreativitas, belajar, dan berbagi pengetahuan.

_________

* Raenaldy Andrean, adalah pegiat Komunitas Gubuak Kopi. Saat ini mementori Taman Belajar Gubuak Kopi dan media Solok Milik Warga. Aktif mendalami seni rupa dan terlibat di berbagai pameran seni rupa di Padang, Bukittinggi, dan di Solok.

Editor: Albert Rahman Putra

Foto: Arsip Gubuakkopi, 2017

4 comments

  1. Alhamdulillah nampak cerah perpustakaan kampuang jao kito… Semangat adiak2! Respect! Salam jauah dari jogja 🙂

Ayo Ditanggapi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s